Haaaa…..hiiiii…..LAAAAAAaaaaaaa











{Mei 2, 2007}   Kehidup@n


Mencermati Kecelakaan Pesawat Garuda GA 200 di Yogyakarta

Masih belum sempat beranjak dari gegap gempitanya musibah kebakaran Kapal Feri Levina I di teluk Jakarta dan raibnya pesawat Adam Air di dasar laut Polewali Selat Makasar di penghujung bulan Februari lalu yang membuahkan dicopotnya sejumlah pejabat Departemen Perhubungan, Rabu pagi pukul 07.05 masyarakat luas dikejutkan dengan Breaking News tentang terjadinya kecelakaan pesawat Garuda 737-400 flight no GA-200 dalam penerbangannya dari Jakarta ke Yogyakarta. Pesawat berjarak jelajah sedang tersebut yang berpenumpang 136 orang termasuk 7 awak pesawat, telah menelan korban 22 orang tewas, termasuk 6 warga asing, kebanyakan warga Negara Australia.

Terasa kentalnya perhatian khusus dari Pemerintah Australia dengan datangnya segera rombongan menteri luar negeri Australia Alexander Downer di lokasi kejadian, mengingat beberapa korban adalah diplomat, staf menteri dan wartawan Australia dalam rangka rencana pertemuan antara Pemerintah Australia dengan Organisasi Muhammadiyah yang berpusat di kota Yogyakarta. Sementara Presiden SBY memerintahkan pada tim penyelidik nanti tidak menyingkirkan kemungkinan terorisme sebagai penyebab, Menlu Australia dalam konperensi persnya di kantor Gubernuran DIY sementara menyimpulkan penyebab kecelakaan penerbangan tersebut murni suatu Flight Incident (Flight Accident?), bukannya buah hasil sasaran teroris.

Sebenarnya lebih tepat musibah diatas dikategorikan Flight Accident, mengingat pesawat terbangnya Total Loss sedang korban jiwa yang cukup signifikan. Menurut definisi ICAO (Organisasi penerbangan Internasional), kriteria dahsyatnya kehancuran pesawat dan melayangnya nyawa 22 orang cukup memenuhi batasan suatu kecelakaan (accident), bukannya kejadian atau incident. Pesawat dengan Capt. Pilot M. Marwoto dan First Officer Gagam Saman Rohmana dan 7 awak kabin tersebut, menerbangkan pesawat berusia 12 tahun dan masuk jajaran Garuda Indonesia selama 5 tahun ini dapat dikategorikan bukan pesawat tua. Kelaikan Kesehatan para penerbangnya juga baru 4 bulan, ketika melakukan check-up kesehatan di Balai Kesehatan Penerbangan, salah satu instansi Dirjen Perhubungan Udara.

Cuaca cerah selama perjalanan udara sekitar 55 menit itu, termasuk cerahnya udara di bandara tujuan disambut baik oleh para awak pesawat. Bagi Kapten dan Kopilotnya yang sedang menapaki jam-jam pertamanya hari itu (awal dari batas 8-9 ijin jam terbang perharinya), sesuatu diawali dengan serba menjanjikan. Seharusnya setelah tidur malam mereka yang berkwalitas, akan mendukung kebugaran fisik yang prima setelah mereka cukup istirahat.

Sayangnya kantor Flight Surgeon Office di bandara keberangkatan (kalau memang ada), selama kegiatan Preflight Medical Check atau pemantauan kesehatan para Awak Pesawat menjelang tugas terbang, terpusat pada pemeriksaan Kebugaran Fisik dan jarang termasuk pencermatan terhadap Status Mental psikologisnya. Walau fisik prima namun kalau ada kendala psikologi, misalnya beban mental yang overload, sehubungan pilot juga manusia yang sekaligus berperan sebagai kepala keluarga, sering memiliki pekerjaan non-flight, misalnya sebagai simulator instructor atau chief pilot atau sekedar bersuka rela terpilih sebagai ketua RT ditempat tinggalnya, yang memungkinkan terbebani pikiran atau menahan emosinya dalam menghadapi masalah sehari-hari.



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.